Ruang 1000 Ilmu

Memuat Materi Pelajaran smk Khususnya Teknik Mesin & Prodi Teknik Industri

LightBlog

Kamis, 28 Januari 2016

Masjid–Masjid yang Mempunyai Unsur Hindu, Budha, dan Cina



Masjid–Masjid yang Mempunyai Unsur Hindu, Budha, dan Cina
Masjid adalah tempat ibadah orang islam. Di Indonesia banyak masjid yang berakulturasi dengan kebudayaan hindu, budha, maupun cina. Salah satu penyebab akulturasi tersebut adalah para penyebar agama islam dahulu ingin menyebarkan islam di daerah tertentu tanpa menghilangkan unsur kebudayaan di masyarakat tersebut. Masjid-masjid tersebut diantaranya :

1.      Masjid Demak
 
Masjid Agung Demak adalah sebuah mesjid tertua di Indonesia. Masjid ini terletak di desa Kauman, Demak, Jawa Tengah. Pengaruh budaya hindu masih sangat melekat dalam arsitektur Masjid Agung Demak. Salah satu bukti yang paling terlihat adalah pola atap tumpang tiga. Pola atap tumpang tiga merupakan bentuk dari meru, atau atap pura tempat ibadah agama hindu. Selain Hindu, arsitektur Masjid Agung Demak juga dipengaruhi unsur India. Pengaruh India dalam hal ini yang dibawa oleh orang Gujarat, jelas Nampak adanya hubungan perdagangan yang dekat antara Masyarakat pesisir Jawa seperti di Demak dengan para pedagang Gujarat di India. Keterkaitan tersebut ditunjukan dari bahan baku Batu Nisan yang terdapat di Kompleks Masjid Agung Demak.
Bahan baku batu nisan Raden Patah misalnya, menggunakan Marmer putih. Marmer ini jelas bukan berasal dari Indonesia, tetapi berkemungkinan kuat berasal dari India. Penggunaan marmer putih sebagai bahan baku batu nisan sebenarnya juga telah digunakan oleh muslim India.
                Pengaruh Cina juga terlihat dari bangunan Masjid Agung Demak. Bukti tersebut yakni adanya piring-piring cina yang terpajang di bagian pintu masuk makam di kompleks Masjid Agung Demak.

2.       Masjid Menara Kudus
 
 Masjid Menara Kudus (disebut juga sebagai mesjid Al Aqsa dan Mesjid Al Manar) adalah mesjid yang dibangun oleh Sunan Kudus pada tahun 1549 Masehi atau tahun 956 Hijriah dengan menggunakan batu dari Baitul Maqdis dari Palestina sebagai batu pertama dan terletak di desa Kauman, kecamatan Kota, kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Masjid Menara Kudus (disebut juga sebagai mesjid Al Aqsa dan Mesjid Al Manar) adalah mesjid yang dibangun oleh Sunan Kudus pada tahun 1549 Masehi atau tahun 956 Hijriah dengan menggunakan batu dari Baitul Maqdis dari Palestina sebagai batu pertama dan terletak di desa Kauman, kecamatan Kota, kabupaten Kudus, Jawa Tengah. 
Yang paling monumental dari bangunan masjid ini adalah menara berbentuk candi bercorak Hindu Majapahit, bukan pada ukurannya yang besar saja, tetapi juga keunikan bentuknya yang tak mudah terlupakan. Bentuk ini tidak akan kita temui kemiripannya dengan berbagai menara masjid di seluruh duniaBangunan menara berketinggian 18 meter dan berukuran sekitar 100 m persegi pada bagian dasar ini secara kuat memperlihatkan sistem, bentuk, dan elemen bangunan Jawa-Hindu. Hal ini bisa dilihat dari kaki dan badan menara yang dibangun dan diukir dengan tradisi Jawa-Hindu, termasuk motifnya.

3.       Masjid agung Banten
 
Menurut tradisi, rancangan bangunan utama masjid yang beratap tumpuk lima ini dipercayakan kepada arsitek Cina bernama Cek Ban Cut. Selain jumlah tumpukan, bentuk dan ekspresinya juga menampilkan keunikan yang tidak ditemui kesamaannya dengan masjid-masjid di sepanjang Pulau Jawa, bahkan di seluruh Indonesia. 

Yang paling menarik dari atap Masjid Agung Banten adalah justru pada dua tumpukan atap konsentris paling atas yang samar-samar mengingatkan idiom pagoda Cina. Kedua atap itu berdiri tepat di atas puncak tumpukan atap ketiga dengan sistem struktur penyalur gaya yang bertemu pada satu titik.

4.       Masjid Sultan Suriansyah
 
Masjid Sultan Suriansyah adalah sebuah masjid bersejarah yang merupakan masjid tertua di Kalimantan Selatan. Masjid ini dibangun di masa pemerintahan Sultan Suriansyah (1526-1550), raja Banjar pertama yang memeluk agama Islam. Masjid ini terletak di Kelurahan Kuin Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin. Arsitektur mesjid Agung Demak sendiri dipengaruhi oleh arsitektur Jawa Kuno pada masa kerajaan Hindu. 

Identifikasi pengaruh arsitektur tersebut tampil pada tiga aspek pokok dari arsitektur Jawa Hindu yang dipenuhi oleh masjid tersebut. Tiga aspek tersebut : atap meru, ruang keramat (cella) dan tiang guru yang melingkupi ruang cella. Meru merupakan ciri khas atap bangunan suci di Jawa dan Bali. Bentuk atap yang bertingkat dan mengecil ke atas merupakan lambang vertikalitas dan orientasi kekuasaan ke atas. Bangunan yang dianggap paling suci dan dan penting memiliki tingkat atap paling banyak dan paling tinggi. 

5.       Masjid Mantingan
 
Masjid dan Makam Mantingan terletak di Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, 5 km selatan Kota Jepara. “Masjid Mantingan didirikan dengan lantai tinggi ditutup dengan ubin bikinan Tiongkok, dan demikian juga dengan undak-undakannya. Semua didatangkan dari Makao. Bangunan atap termasuk bubungan adalah gaya Tiongkok. Dinding luar dan dalam dihiasi dengan piring tembikar bergambar biru. Sedang dinding sebelah tempat imam dan khatib dihiasi dengan relief-relief persegi bergambar margasatwa, dan penari-penari yang dipahat pada batu cadas kuning tua. Bahkan ukir-ukiran kayu yang indah bergaya Cina di makam dalam komplek Masjid Mantingan diperkirakan orang setempat sebagai karya Tjie Wie Gwan.

6.       Masjid Cheng Ho di palembang
 
Masjid Cheng Hoo Palembang sebenarnya bernama Masjid Al Islam Muhammad Cheng Hoo Sriwijaya Palembang adalah Masjid bernuansa Muslim Tionghoa yang berlokasi di Jakabaring Palembang. Masjid Sriwijaya Muhammad Cheng Hoo, sebuah masjid yang berlokasi di Jakabaring ini punya disain arsitektur China, mampu menampung jamaah sekitar 600 dan berlantai 2.
Masjid Cheng Ho punya desain arsitektur yang unik, yang memadukan unsur-unsur budaya lokal Palembang dengan nuansa Cina dan Arab. Masjid yang dibangun di atas tanah 5.000 meter persegi ini berada di sebuah kompleks perumahan kelas menengah. Menara di kedua sisi masjid meniru klenteng-klenteng di Cina, dicat warna merah dan hijau giok.
Masjid ini mulai digunakan sejak Agustus 2008. Tidak ada pembatas yang memisahkan jamaah laki-laki dan perempuan di dalam masjid. Laki-laki salat di lantai pertama, sedang perempuan di lantai kedua. Di lingkungan masjid ini ada sebuah rumah kecil buat imam, sebuah kantor, sebuah perpustakaan, dan sebuah ruang serbaguna.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar